1. Pengertian
nifas
a. Masa
nifas (puerperium) dimulai setelah kelahiran plasenta dan berakhir ketika
alat-alat kandungan hamil seperti keadadaan sebelum hamil. Masa nifas
berlangsung selama kira-kira 6 minggu. (Saifuddin AB, 2007:122)
b. Kala
puerperium berlangsung selama 6 minggu atau 42 hari, merupakan waktu yang
diperlukan untuk pulihnya alat-alat kandungan pada keadaan yang normal, dimana
dijumpai 2 kejadian penting yaitu involusio uterus dan proses laktasi.(Manuaba
IBG, 2007:190)
c. Akhir
dari priode intra partum yang ditandai dengan lahirnya selaput dan plasenta dan
berlangsung sekitar enam minggu. (Varney’s,2008)
d. Dari
ketiga definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa, masa nifas adalah masa dimana
tubuh menyesuaikan baik fisik maupun psikologi terhadap proses melahirkan
dimana segera setelah bersalin sampai tubuh menyesuaikan secara sempurna dan
kembali kekeadaan semula sebelum hamil kira-kira 6 minggu. (Saifuddin AB,
2007:122)
2. Tujuan
asuhan nifas
a. Menjaga
kesehatan ibu dan bayinya baik fisik maupun psikososial.
b. Melaksanakan
skrening yang komprehensif, mendeteksi masalah, mengobati atau merujuk bila
terjadi komplikasi pada ibu maupun bayinya.
c. Memberikan
pendidikan kesehatan tentang kesehatan diri, nutrisi, kelurga berencana,
menyusui, pemberian imunisasi kepada bayinya dan perawatan bayi sehat.
3. Fisiologi
masa nifas
Perubahan-perubahan
fisiologi, meliputi :
a. Tanda-tanda
vital
Monitoring suhu
badan dan tensi adalah hal yang sangat penting pada immediate dan early post
partum periode. Suhu badan 38ºC, mungkin sebagai akibat dehidrasi, akibat
aktivitas otot-otot selama persalinan dan kelahiran dan perubahan hormon. Suhu
badan akan berangsur menurun dalam 24 jam. Bila dalam waktu 2 hari post partum
suhu masih 38ºC kemungkinan terjadi infeksi masa nifas.
b. Perubahan
sistem kardiovaskuler
Tekanan darah
dalam batas normal, jika tekanan darah menurun terus harus diwaspadai
terjadinya perdarahan, dan jika sangat meningkat waspadai terjadi preeklamsia
masa nifas. Nadi setelah persalinan dapat terjadi bricadi. Apabila terjadi
tachicardi sedangkan suhu tidak meningkat, kemungkinan ada perdarahan yang
berlebih. Pada masa nifas umumnya denyut nadi lebih kecil dibandingkan dengan
suhu badan.(Winkjosastro Hanifa, 2007:241)
c. Dinding
perut
Ketika
miometrium berkontraksi setelah kelahiran dan beberapa hari sesudahnya,
peritoneum membungkus sebagian besar uterus dibentuk menjadi lipatan-lipatan
dan kerutan-kerutan ligamentum rotondum jauh lebih kendor daripada kondisi
tidak hamil, dan mereka memerlukan waktu yang lama untuk kembali dari
peregangan dan pengendoran yang telah dialami setelah kehamilan tersebut.
d.
Perubahan endokrin
Setelah
plasenta lahir terjadi penurunan hormon ekstrogen dan progesteron. Hormon
prolaktin akan meningkat bila ada rangsangan isapan dari bayi sehingga oxytosin
pun meningkat dan akan mempengaruhi kontraksi uterus. Sedangkan pada ibu yang
tidak menyusui ekstrogen akan meningkat.
Haid biasanya akan terjadi pada minggu ke 12 pada ibu yang tidak menyusui dan
minggu ke 36 pada ibu yang menyusui.
e. Sistem
gastro instestinal
Perubahan
terjadi disebabkan karena beberapa hal sebagian berikutnya :
1) Penurunan
motility usus sehingga aktivitas ususs menurun yang menyebabkan peristaltik
lemah.
2) Penurunan
kekenyangan abdominal.(Varney, 2008)
f.
Perubahan alat
reproduksi
Involusio adalah
perubahan alat reproduksi mendekati semula yang terjadi setelah persalinan dan
kelahiran bayi.
1) Fundus
uteri
Terjadi
penurunan / mendekati 1 cm dibawah pusat pada hari 9 sampai hari 10 tidak
teraba lagi. Pada minggu 5 sampai 6 uterus hampir sudah kembali ke ukuran
semula sebelum hamil.
2) Lochia
Yaitu cairan
yang keluar dari uterus melalu vagina dalam masa nifas. Cairan ini berasal dari
luka pada waktu plasenta terlepas dari pembuluh darah.
Jenis-jenis
lochia :
a) Lochia
rubra / kruenta : terjadi pada hari pertama sampai hari keempat masa nifas,
berwarna merah segar, berupa darah segar berisi selaput ketuban, sel-sel
decidua, verniks caseosa, lanugo dan mekonium.
b) Lochia
serosa: terjadi pada hari kelima sampai hari kesembilan berwarna kuning.
c) Lochia
alba: terjadi setelah hari kesepuluh berwarna putih.
3) Perubahan
vagina
Segera setelah
persalinan dan kelahiran bayi dinding vagina menjadi oedema dan memar,
kemungkinan laserasi, rugae hilang dan akan kembali pada minggu ketiga.
Bagaimanapun vagina tidak akan kembali seperti sebelum hamil.
4)
Perubahan perineum
Tekanan kepala
janin meregangkan otot-otot perineum pada saat kelahiran untuk mencegah
terjadinya sistokel dan rektokel dan mempercepat kelahiran janin dilakukan episiotomi.
Rasa nyeri tergantung lamanya kala II (kelahiran), tingkat robekan dan jahitan
otot perineum akan mengendor untuk beberapa minggu dan akan cepat kembali
dengan latihan khusus.
g. Laktasi
Perubahan
setelah melahirkan, kadar progesteron dan estrogen akan menurun dengan cepat.
Peningkatan sekresi prolaktin merangsang sel alveoli untuk memproduksi ASI.
Pengisapan anak merangsang di lepaskannya oxytosin yang mempengaruhi kontraksi
sehingga ASI memancar keluar.
h. Perubahan
sistem urinarus
Pemeriksaan
sitoskopik segera setelah kelahiran memperlihatkan adanya oedema dan hiperemia
dinding kandung kencing. Disamping itu kandungan kencing mempunyai kapasitas
yang bertambah besar dan relatif tidak
sensitif terhadap tekanan cairan intra vesika. Karena itu pengembangan yang
berlebihan, khususnya karena analgesia
serta gangguan fungsi neural, juga adanya urine residual dan bakteri
uria pada kandung kencing yang mengalami cedera, ditambah dengan dilatasi
pelvis renalis dan ureter akan membentuk kondisi optimal untuk timbulnya
infeksi saluran kencing.
4. Perubahan
psikologis masa nifas
Ikatan kasih
sayang dan berkaitan dengan bounding attachment antara ibu ayah dan bayi mulai
pada kala IV.
Adapun
fase maternal dan masa post partum terdiri dari :
a. Fase
taking in
Merupakan
fase ketergantungan, perlindungan serta pelayanan membutuhkan banyak makanan
dan istirahat, hal ini terjadi pada hari pertama dan kedua setelah melahirkan.
b. Fase
taking hold
Tahap
kedua ini mulai pada sekitar hari ketiga setelah melahirkan dan berakhir pada
minggu keempat sampai minggu kelima. Sampai hari ketiga ibu siap melakukan
peranan barunya dan belajar tentang semua hal-hal baru. Selama fase ini sistem
pendukung menjadi sangat bernilai bagi ibu mudah yang membutuhkan sumber
informasi dan penyembuhan fisik sehingga ia dapat beristirahat dengan baik.
c. Fase
letting go
Tahap
ketiga ini umumnya dialami setelah ibu tiba di rumah dan secara penuh merupakan
waktu pengaturan bersama keluarga. Ibu telah menerima tanggung jawab sebagai
ibu dan merasakan serta menyadari kebutuhan bayinya yang sangat tergantung dari
kesiapannya sendiri sebagai ibu, ketergantungannya pada orang lain, serta
dipengaruhi oleh interaksi sosial budaya keluarga.
d. Post
partum blues
Wanita
mengalami banyak perubahan emosi atau psikologis selama masa nifas sementara ia
menyesuaikan diri menjadi seorang ibu. Cukup sering ibu menunjukkan depresi
ringan beberapa hari setelah kelahiran yang biasa disebut sebagai post partum
blues yaang merupakan perwujudan fenomena psikologis yaang dialami oleh wanita
yang terpisah dari keluarga dan bayinya.
e. Kesedihan
dan duka cita
Saat
individu kehilangan suatu hubungan harapan dan impiannya tentang masa depan
hilang. Pencapaian kembali hubungan khusus itu melibatkan suatu proses yang
disebut proses kehilangan atau berkabung. Perasaan dan emosi selanjutnya
disebut respon berduka. Seorang wanita yang mengalami perasaan kehilangan fisik
setelah melahirkan dapat mengakibatkan proses duka cita.
B. Konsep Dasar Perdarahan
Post Partum
1.
Pengertian Perdarahan Post
Partum
a.
Perdarahan post partum ialah
perdarahan yang melebihi 500 cc dalam 24 jam setelah anak lahir terutma di
sebabkan oleh atonia uteri dan kadang-kadang oleh luka jalan lahir (
Wiknjoastro H, 2000).
b.
Perdarahan post partum adalah
kehilangan darah yang melebihi 500 ml segera setelah partus, dengan penanganan
dini dan agresif akan mencegah perdarahan mengancam nyawa dan mengurangi
kemungkinan komplikasi anemia ( Rayburn and carey, 2001).
2.
Jenis perdarahan
Menurut waktu terjadinya post
partum primer meliputi (mochtar R, 1998 hal 298):
a.
Perdarahan post partum primer (
early post partum hemorrhage) yang terjadi dalam 24 jam setelah anak lahir.
b.
Perdarahan pots partum skunder
( late post partum hemorrhage) yang terjadi setelah 24 jam, biasanya
antara hari ke 5-15 post partum.
3.
Penyebab perdarahan post partum
a. Penyebab perdarahan post partum primer
meliputi ( Manuaba IBG,1999 Hal 295 )
1)
Atonia uteri
2)
Laserasi jalan lahir
3)
Retensio plasenta
4)
Gangguan pembekuan darah
b.
Penyebab
perdarahan post partum sekunder. ( Manuaba IBG,1999 Hal 295)
1)
Robekan jalan lahir
2)
Sisa plasenta atau membran
4. Diagnosa
perdarahan Post partum
Pada tiap perdarahan post partum harus dicari apa penyebabnya. Secara
ringkas membuat diagnosa adalah Perdarahan post partum ada kalanya merupakan
perdarahan yang hebat dan menakutkan sehingga dalam waktu singkat dapat jatuh
dalam keadaan syok. Karena itu adalah penting sekali pada setiap ibu yang
bersalin dilakukan pengukuran kadar darah secara rutin serta pengawasan tekanan
darah ,nadi, pernapasan dan periksa kontraksi uterus dan perdarahan selama 1
jam ( Mochtar R, 1998 hal 301).
C. Konsep Dasar Atonia Uteri
1.
Pengertian
a. Perdarahan
Atonia adalah perdarahan dalam
kala IV yang lebih dari 500-600 cc yang terjadi dalam 24 jam setelah anak dan
plasenta lahir (Mochtar R, 1998 Hal 300).
b. Atonia uteri adalah Suatu keadaan lemahnya
tonus/kontraksi uterus yang menyebabkan uterus tidak mampu menutup perdarahan
terbuka dari tempat implantasi plasenta setelah bayi lahir (Sarwono 2007)
c. Perdarahan atonia uteri dapat terjadi
karena kegagalan kontraksi otot rahim menyebabkan pembuluh darah pada bekas
implantasi plasenta terbuka sehingga menimbulkan perdarahan ( Manuaba IBG, 1999
).
2.
Faktor-Faktor Predisposisi
Menurut Depkes RI 2008, faktor
predisposisi dibagi dua bagian yaitu
a.
Saat kehamilan yang
menyebabkan uterus meregang lebih normal diantaranya:
1)
Jumlah air ketuban
yang berlebihan (polihidroamnion)
2)
Kehamilan kembar
(gameli)
3)
Janin besar
(makrosomnia)
b.
Saat persalinan
yang mentebabkan uterus meregang lebih normal, diantaranya
1)
Kala I dan kala II
memanjang
2)
Persalinan yang
dilindungi atau dipercepat oleh oksitosin
3)
Infeksi intrapartum
4)
Multiparitas
5)
Magnesium sulfat
yang digunakan untuk mengendalikan kejang pada pre eklampsia.
3.
Tanda dan
gejala
a. Perdarahan pervaginan segera setelah anak lahir
(perdarahan pasca persalinan primer atau P3)
b. Uterus tidak berkontraksi /lembk
c. Terdapat tanda-tanda syok :
1) Pasien nampak gelisah, ketakutan dan kesadaran menurun
sampai tidak sadar
2) Berkeringat atau kulit terasa dingin atau lembek
3) Muka pucat
4) Pernafasan cepat
5) Nadi cepat > 110 kali/menit
6) Tekanan darah turun, sistolik< 90 mmHg
d. Fundus uteri naik (kalau pengaliran darah keluar
terhalang oleh bekuan darah atau selaput janin
4.
Diagnosa
Diagnosa biasanya tidak sulit, terutama apabila timbul
perdarahan banyak dalam waktu pendek. tetapi bila perdarahan sedikit dalam waktu lama, tampa di sadari penderita telah
kehilangan banyak darah sebelum ia
tampak pucat. Nadi serta
pernapasan menjadi lebih cepat dan tekanan darah menurun. Diagnosis perdarahan
post partum di permudah apabila tiap-tiap persalinan setelah anak lahir secara
rutin di ukur pengeluaran darah dalam kala III dan satu jam sesudahnya(
Wiknjosastro H, 1998 ).
5.
Penanganan atonia uteri
Adapun penanganan dari atonia
uteri antara lain ( Saifuddin AB, 2000
hal 176) :
a. Kenali dan tegakkan atonia uteri.
b. Sementara dilakukan pemasangan infus dan pemberian uterotonika, lakukan
pengurutan uterus.
c. pastikan plasenta terlahir lengkap dan tak
ada laserasi jalan lahir.
d. lakukan uji beku darah.
e. bila semua tindakan di atas telah di
lakukan tetapi masih tetap terjadi perdarahan lakukan tindakan spesifik sebagai
berikut :
Pada fasilitas kesehatan dasar :
a.
Kompresi Bimanual Eksternal
Menekan uterus melalui dinding
abdomen dengan jalan saling mendekatkan kedua belah pihak telapak tangan yang
melingkupi uterus. Pantau aliran darah yang keluar. Bila perdarahan berkurang,
kompresi di teruskan, pertahankan hingga uterus dapat kembali berkontraksi atau
di bawa ke fasilitas kesehatan rujukan. Bila belum berhasil, coba dengan
kompresi bimanual internal.
Gambar 1
Kompresi Bimanual Eksternal

Sumber : wiknjosastro, 2000.
b.
Kompresi Bimanual Internal
Uterus di tekan di antara
telapak tangan pada dinding abdomen atau tinju dengan dalam untuk menjepit
pembuluh darah di dalam miometrium. Pastikan perdarahan yang terjadi
pertahankan kondisi ini bila perdarahan berkurang atau berhenti, tunggu hingga
uterus berkontraksi kembali. Apabila perdarahan tetap terjadi, coba kompresi
aorta abdominalis.
Gambar 2
Kompresi
Bimanual Internal

Sumber : Wiknjosastro, 2000
c.
Kompresi Aorta Abdominalis
Tekan aorta abdominalis dengan kuat dan dapat dibantu
dengan tangan kiri, selama 5 sampai 7 menit.Lepaskan tekanan sekitar 30 sampai
60 detik, sehingga bagian lainnya tidak terlalu banyak kekurangan darah.Tekanan
aorta abdominalis untuk mengurangi perdarahan bersifat sementara.
Gambar 3
Kompresi Aorta Abdominalis.

Sumber : Manuaba IBG, 1999
Pada Rumah Sakit Rujukan
1)
Ligasi arteri uterine dan
ovarika
2)
Histerektomi
5. Peranan bidan dalam menghadapi perdarahan
post partum karena atonia uteri.
Bidan dapat mengambil
langkah-langkah untuk menangani perdarahan atonia uteri sebagai berikut (
Manuaba IBG, 1998 ).
a. Meningkatkan
upaya preventif
1) Meningkatkan pemberian gerakan keluarga berencana
sehingga memperkecil jumlah grande multipare dan memperpanjang jarak hamil.
2) Melakukan konsultasi mengenai kehamilan dengan
overdistensi uterus: hidramnion dan kehamilan ganda, dugaan janin besar (makrosomia )
3) Mengurangi peranan pertolongan persalinan oleh
dukun.
b.
Bidan
dapat segera melakukan rujukan bila penderita dengan di dahului tindakan ringan
:
1)
Memasang
infus, memberikan cairan pengganti.
2)
Memberikan
uterotonika intramuskulr, intravena atau dengan drips.
3)
Melakukan
masase uterus sehingga kontraksi otot rahim makin cepat
|
D. Konsep Dasar Menajemen Asuhan Kebidanan
(Varney, 1997)
1. Pengertian
Manajemen Kebidanan
Manajemen kebidanan adalah proses pemecahan masalah
yang digunakan sebagai metode untuk mengorganisasikan pikiran dan tindakan berdasarkan
teori ilmiah, penemuan –penemuan, ketrampilan dalam rangkaian / tahapan yang
logis untuk pengambilan suatu keputusan yang terfokus pada klien. (Varney,
diakses 30 Agustus 2012)
2. Tahapan
dalam Manajemen Kebidanan (Hj. Salma)
Menurut Varney langkah-langkah manajemen asuhan
kebidanan adalah sebagai berikut:
a. Langkah
I : Tahap Pengumpulan Data Dasar
Pada langkah pertama ini berisi semua informasi yang
akurat dan lengkap dari semua sumber yang berkaitan dengan kondisi klien. Untuk
memperoleh data dilakukan dengan cara anamnesis (biodata, riwayat menstruasi,
riwayat kesehatan, riwayat kehamilan, persalinan dan nifas,
biospsikososiospiritual, pengetahuan klien), pemeriksaan fisik sesuai dengan
kebutuhan dan pemeriksaan tanda-tanda vital, pemeriksaan khusus (inspeksi, palpasi, auskultasi, perkusi), pemeriksaan penunjang 9
laboratorium, catatan terbaru dan sebelumnya).
b. Langkah
II : Interpretasi Data Dasar
Pada langkah ini dilakukan identifikasi terhadap
diagnosa atau masalah berdasarkan interpretasi yang benar atas data-data yang
telah dikumpulkan.data dasar yang sudah dikumpulkan diinterpretasikan sehingga
dapat merumuskan diagnosis dan masalah yang efektif.
c. Langkah
III : Identifikasi Diagnosa Atau Masalah Potensial
Pada langkah ini kita mengidentifikasi masalah
potensial atau diagnosa potensial berdasarkan diagnosa atau masalah yang sudah
diidentifikasi. Langkah ini membutuhkan antisipasi, bila memungkinkan dilakukan
pencegahan. Bidan diharapkan dapat waspada dan bersiap-siap diagnosa atau
masalah potensial ini benar-benar terjadi.
d. Langkah
IV : Penetapan Kebutuhan Terhadap Tindakan Segera
Pada langkah ini bidan menetapkan kebutuhan terhadap
tindakan segera, melakukan konsultasi, kolaborasi dengan tenaga lain
berdasarkan kondisi klien. Dalam langkah ini, Mengidentifikasi perlunya
tindakan segera oleh bidan atau dokter dan untuk dikonsultasikan atau ditangani
bersama dengan anggota tim kesehatan yang lain sesuai dengan kondisi klien.
e. Langkah
V : Penyusunan Rencana Asuhan yang
Menyeluruh
Pada langkah ini direncanakan usaha yang ditentukan
oleh langkah-langkah sebelumnya. Langkah ini merupakan kelanjutan manajemen
terhadap masalah atau diagnosa yang telah diidentifikasi atau diantisipasi.
f. Langkah
VI : pelaksanaan asuhan
Pada langkah ini dilakukan rencana asuhan menyeluruh
seperti yang diuraikan pada langkah kelima dilaksanakan secara efesien dan
aman. Perencanaan ini bias dilakukan seluruhnya oleh bidan atau sebagian lagi
oleh klien atau anggota tim kesehatan lainnya. Walau bidan tidak melakukan
sendiri ia tetap memikul tanggung jawab untuk mengarahkan pelaksanaannya.
g. Langkah
VII : Evaluasi
Pada langkah ini dilakukan evaluasi keefektifan dari
asuhan yang sudah diberikan meliputi pemenuhan kebutuhan akan bantuan apakh
benar-benar akan terpenuhi sesuai dengan kebutuhan sebagaimana telah
diidentifikasi di dalam diagnosa dan masalah. Rencana tersebut dianggap efektif
jika memang benar dalam pelaksanaannya.
h. Pendokumentasian
Asuhan Kebidanan (Hj. Salmah)
Menurut Varney, alur berpikir bidan saat menghadapi
klien meliputi 7 langkah. Untuk mengetahui apa yang telah dilakukan oleh
seorang bidan melalui
proses berpikir sistematis, didokumentasikan dalam bentuk SOAP, yaitu :
1)
Subjektif (S)
Menggambarkan pendokumentasian hasil pengumpulan
data klien melalui anamnesis.
2)
Objektif (O)
Menggambarkan pendokumentasian hasil pemeriksaan
fisik klien, hasil laboratorium dan uji diagnostic lain yang dirumuskan dalam
data focus untuk mendukung asuhan.
3)
Assesment (A)
Menggambarkan pendokumentasian hasil analisis dan
interpretasi data subjektif dan objektif dalam suatu identifikasi
diagnosis/masalah, antisipasi diagnosis/masalah potensial, dan perlunya
tindakan segera oleh bidan atau dokter.
4)
Planning (P)
Menggambarkan pendokumentasian dan tindakan (I) dan
evaluasi perencanaan (E) berdasarkan assessment.