Jumat, 08 Mei 2015

ATONIA UTERI



1.    Pengertian nifas
a.    Masa nifas (puerperium) dimulai setelah kelahiran plasenta dan berakhir ketika alat-alat kandungan hamil seperti keadadaan sebelum hamil. Masa nifas berlangsung selama kira-kira 6 minggu. (Saifuddin AB, 2007:122)
b.    Kala puerperium berlangsung selama 6 minggu atau 42 hari, merupakan waktu yang diperlukan untuk pulihnya alat-alat kandungan pada keadaan yang normal, dimana dijumpai 2 kejadian penting yaitu involusio uterus dan proses laktasi.(Manuaba IBG, 2007:190)
c.    Akhir dari priode intra partum yang ditandai dengan lahirnya selaput dan plasenta dan berlangsung sekitar enam minggu. (Varney’s,2008)
d.   Dari ketiga definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa, masa nifas adalah masa dimana tubuh menyesuaikan baik fisik maupun psikologi terhadap proses melahirkan dimana segera setelah bersalin sampai tubuh menyesuaikan secara sempurna dan kembali kekeadaan semula sebelum hamil kira-kira 6 minggu. (Saifuddin AB, 2007:122­)
2.    Tujuan asuhan nifas
a.    Menjaga kesehatan ibu dan bayinya baik fisik maupun psikososial.
b.    Melaksanakan skrening yang komprehensif, mendeteksi masalah, mengobati atau merujuk bila terjadi komplikasi pada ibu maupun bayinya.
c.    Memberikan pendidikan kesehatan tentang kesehatan diri, nutrisi, kelurga berencana, menyusui, pemberian imunisasi kepada bayinya dan perawatan bayi sehat.
3.    Fisiologi masa nifas
Perubahan-perubahan fisiologi, meliputi :
a.    Tanda-tanda vital
Monitoring suhu badan dan tensi adalah hal yang sangat penting pada immediate dan early post partum periode. Suhu badan 38ºC, mungkin sebagai akibat dehidrasi, akibat aktivitas otot-otot selama persalinan dan kelahiran dan perubahan hormon. Suhu badan akan berangsur menurun dalam 24 jam. Bila dalam waktu 2 hari post partum suhu masih 38ºC kemungkinan terjadi infeksi masa nifas.
b.    Perubahan sistem kardiovaskuler
Tekanan darah dalam batas normal, jika tekanan darah menurun terus harus diwaspadai terjadinya perdarahan, dan jika sangat meningkat waspadai terjadi preeklamsia masa nifas. Nadi setelah persalinan dapat terjadi bricadi. Apabila terjadi tachicardi sedangkan suhu tidak meningkat, kemungkinan ada perdarahan yang berlebih. Pada masa nifas umumnya denyut nadi lebih kecil dibandingkan dengan suhu badan.(Winkjosastro Hanifa, 2007:241)
c.    Dinding perut
Ketika miometrium berkontraksi setelah kelahiran dan beberapa hari sesudahnya, peritoneum membungkus sebagian besar uterus dibentuk menjadi lipatan-lipatan dan kerutan-kerutan ligamentum rotondum jauh lebih kendor daripada kondisi tidak hamil, dan mereka memerlukan waktu yang lama untuk kembali dari peregangan dan pengendoran yang telah dialami setelah kehamilan tersebut.
d.   Perubahan endokrin
Setelah plasenta lahir terjadi penurunan hormon ekstrogen dan progesteron. Hormon prolaktin akan meningkat bila ada rangsangan isapan dari bayi sehingga oxytosin pun meningkat dan akan mempengaruhi kontraksi uterus. Sedangkan pada ibu yang tidak menyusui ekstrogen akan  meningkat. Haid biasanya akan terjadi pada minggu ke 12 pada ibu yang tidak menyusui dan minggu ke 36 pada ibu yang menyusui.
e.    Sistem gastro instestinal
Perubahan terjadi disebabkan karena beberapa hal sebagian berikutnya :
1)   Penurunan motility usus sehingga aktivitas ususs menurun yang menyebabkan peristaltik lemah.
2)   Penurunan kekenyangan abdominal.(Varney, 2008)
f.     Perubahan alat reproduksi
Involusio adalah perubahan alat reproduksi mendekati semula yang terjadi setelah persalinan dan kelahiran bayi.



1)   Fundus uteri
Terjadi penurunan / mendekati 1 cm dibawah pusat pada hari 9 sampai hari 10 tidak teraba lagi. Pada minggu 5 sampai 6 uterus hampir sudah kembali ke ukuran semula sebelum hamil.
2)   Lochia
Yaitu cairan yang keluar dari uterus melalu vagina dalam masa nifas. Cairan ini berasal dari luka pada waktu plasenta terlepas dari pembuluh darah.
Jenis-jenis lochia :
a)    Lochia rubra / kruenta : terjadi pada hari pertama sampai hari keempat masa nifas, berwarna merah segar, berupa darah segar berisi selaput ketuban, sel-sel decidua, verniks caseosa, lanugo dan mekonium.
b)   Lochia serosa: terjadi pada hari kelima sampai hari kesembilan berwarna kuning.
c)    Lochia alba: terjadi setelah hari kesepuluh berwarna putih.
3)   Perubahan vagina
Segera setelah persalinan dan kelahiran bayi dinding vagina menjadi oedema dan memar, kemungkinan laserasi, rugae hilang dan akan kembali pada minggu ketiga. Bagaimanapun vagina tidak akan kembali seperti sebelum hamil.


4)   Perubahan perineum
Tekanan kepala janin meregangkan otot-otot perineum pada saat kelahiran untuk mencegah terjadinya sistokel dan rektokel dan mempercepat kelahiran janin dilakukan episiotomi. Rasa nyeri tergantung lamanya kala II (kelahiran), tingkat robekan dan jahitan otot perineum akan mengendor untuk beberapa minggu dan akan cepat kembali dengan latihan khusus.
g.    Laktasi
Perubahan setelah melahirkan, kadar progesteron dan estrogen akan menurun dengan cepat. Peningkatan sekresi prolaktin merangsang sel alveoli untuk memproduksi ASI. Pengisapan anak merangsang di lepaskannya oxytosin yang mempengaruhi kontraksi sehingga ASI memancar keluar.
h.    Perubahan sistem urinarus
     Pemeriksaan sitoskopik segera setelah kelahiran memperlihatkan adanya oedema dan hiperemia dinding kandung kencing. Disamping itu kandungan kencing mempunyai kapasitas yang bertambah besar dan relatif  tidak sensitif terhadap tekanan cairan intra vesika. Karena itu pengembangan yang berlebihan, khususnya karena analgesia  serta gangguan fungsi neural, juga adanya urine residual dan bakteri uria pada kandung kencing yang mengalami cedera, ditambah dengan dilatasi pelvis renalis dan ureter akan membentuk kondisi optimal untuk timbulnya infeksi saluran kencing.
4.    Perubahan psikologis masa nifas
     Ikatan kasih sayang dan berkaitan dengan bounding attachment antara ibu ayah dan bayi mulai pada kala IV.
     Adapun fase maternal dan masa post partum terdiri dari :
a.    Fase taking in
Merupakan fase ketergantungan, perlindungan serta pelayanan membutuhkan banyak makanan dan istirahat, hal ini terjadi pada hari pertama dan kedua setelah melahirkan.
b.    Fase taking hold
Tahap kedua ini mulai pada sekitar hari ketiga setelah melahirkan dan berakhir pada minggu keempat sampai minggu kelima. Sampai hari ketiga ibu siap melakukan peranan barunya dan belajar tentang semua hal-hal baru. Selama fase ini sistem pendukung menjadi sangat bernilai bagi ibu mudah yang membutuhkan sumber informasi dan penyembuhan fisik sehingga ia dapat beristirahat dengan baik.
c.    Fase letting go
Tahap ketiga ini umumnya dialami setelah ibu tiba di rumah dan secara penuh merupakan waktu pengaturan bersama keluarga. Ibu telah menerima tanggung jawab sebagai ibu dan merasakan serta menyadari kebutuhan bayinya yang sangat tergantung dari kesiapannya sendiri sebagai ibu, ketergantungannya pada orang lain, serta dipengaruhi oleh interaksi sosial budaya keluarga.

d.   Post partum blues
Wanita mengalami banyak perubahan emosi atau psikologis selama masa nifas sementara ia menyesuaikan diri menjadi seorang ibu. Cukup sering ibu menunjukkan depresi ringan beberapa hari setelah kelahiran yang biasa disebut sebagai post partum blues yaang merupakan perwujudan fenomena psikologis yaang dialami oleh wanita yang terpisah dari keluarga dan bayinya.
e.    Kesedihan dan duka cita
Saat individu kehilangan suatu hubungan harapan dan impiannya tentang masa depan hilang. Pencapaian kembali hubungan khusus itu melibatkan suatu proses yang disebut proses kehilangan atau berkabung. Perasaan dan emosi selanjutnya disebut respon berduka. Seorang wanita yang mengalami perasaan kehilangan fisik setelah melahirkan dapat mengakibatkan proses duka cita.
B.  Konsep Dasar Perdarahan Post Partum
1.    Pengertian Perdarahan Post Partum
a.    Perdarahan post partum ialah perdarahan yang melebihi 500 cc dalam 24 jam setelah anak lahir terutma di sebabkan oleh atonia uteri dan kadang-kadang oleh luka jalan lahir ( Wiknjoastro H, 2000).
b.    Perdarahan post partum adalah kehilangan darah yang melebihi 500 ml segera setelah partus, dengan penanganan dini dan agresif akan mencegah perdarahan mengancam nyawa dan mengurangi kemungkinan komplikasi anemia ( Rayburn and carey, 2001).
2.    Jenis perdarahan
Menurut waktu terjadinya post partum primer meliputi (mochtar R, 1998 hal 298):
a.    Perdarahan post partum primer ( early post partum hemorrhage) yang terjadi dalam 24 jam setelah anak lahir.
b.    Perdarahan pots partum skunder ( late post partum hemorrhage) yang terjadi setelah 24 jam, biasanya antara hari ke 5-15 post partum.
3.    Penyebab perdarahan post partum
a.    Penyebab perdarahan post partum primer meliputi ( Manuaba IBG,1999 Hal 295 )
1)   Atonia uteri
2)   Laserasi jalan lahir
3)   Retensio plasenta
4)   Gangguan pembekuan darah
b.    Penyebab perdarahan post partum sekunder. ( Manuaba IBG,1999 Hal 295)
1)   Robekan jalan lahir
2)   Sisa plasenta atau membran
4.    Diagnosa perdarahan Post partum
        Pada tiap perdarahan post partum harus dicari apa penyebabnya. Secara ringkas membuat diagnosa adalah Perdarahan post partum ada kalanya merupakan perdarahan yang hebat dan menakutkan sehingga dalam waktu singkat dapat jatuh dalam keadaan syok. Karena itu adalah penting sekali pada setiap ibu yang bersalin dilakukan pengukuran kadar darah secara rutin serta pengawasan tekanan darah ,nadi, pernapasan dan periksa kontraksi uterus dan perdarahan selama 1 jam ( Mochtar R, 1998 hal 301).
C.  Konsep Dasar Atonia Uteri
1.    Pengertian
a.    Perdarahan  Atonia  adalah perdarahan dalam kala IV yang lebih dari 500-600 cc yang terjadi dalam 24 jam setelah anak dan plasenta lahir (Mochtar R, 1998 Hal 300).
b.    Atonia uteri adalah Suatu keadaan lemahnya tonus/kontraksi uterus yang menyebabkan uterus tidak mampu menutup perdarahan terbuka dari tempat implantasi plasenta setelah bayi lahir (Sarwono 2007)
c.    Perdarahan atonia uteri dapat terjadi karena kegagalan kontraksi otot rahim menyebabkan pembuluh darah pada bekas implantasi plasenta terbuka sehingga menimbulkan perdarahan ( Manuaba IBG, 1999 ).
2.    Faktor-Faktor Predisposisi
Menurut Depkes RI 2008, faktor predisposisi dibagi dua bagian yaitu
a.    Saat kehamilan yang menyebabkan uterus meregang lebih normal diantaranya:
1)   Jumlah air ketuban yang berlebihan (polihidroamnion)
2)   Kehamilan kembar (gameli)
3)   Janin besar (makrosomnia)
b.    Saat persalinan yang mentebabkan uterus meregang lebih normal, diantaranya
1)   Kala I dan kala II memanjang
2)   Persalinan yang dilindungi atau dipercepat oleh oksitosin
3)   Infeksi intrapartum
4)   Multiparitas
5)   Magnesium sulfat yang digunakan untuk mengendalikan kejang pada pre eklampsia.
3.    Tanda dan gejala
a.    Perdarahan pervaginan segera setelah anak lahir (perdarahan pasca persalinan primer atau P3)
b.    Uterus tidak berkontraksi /lembk
c.    Terdapat tanda-tanda syok :
1)   Pasien nampak gelisah, ketakutan dan kesadaran menurun sampai tidak sadar
2)   Berkeringat atau kulit terasa dingin atau lembek
3)   Muka pucat
4)   Pernafasan cepat
5)   Nadi cepat > 110 kali/menit
6)   Tekanan darah turun, sistolik< 90 mmHg
d.   Fundus uteri naik (kalau pengaliran darah keluar terhalang oleh bekuan darah atau selaput janin
4.    Diagnosa
Diagnosa biasanya tidak sulit, terutama apabila timbul perdarahan banyak dalam waktu pendek. tetapi bila perdarahan sedikit dalam  waktu lama, tampa di sadari penderita telah kehilangan banyak  darah sebelum ia tampak pucat. Nadi serta pernapasan menjadi lebih cepat dan tekanan darah menurun. Diagnosis perdarahan post partum di permudah apabila tiap-tiap persalinan setelah anak lahir secara rutin di ukur pengeluaran darah dalam kala III dan satu jam sesudahnya( Wiknjosastro H, 1998 ).
5.    Penanganan atonia uteri
Adapun penanganan dari atonia uteri antara lain ( Saifuddin AB, 2000  hal 176) :
a.    Kenali dan tegakkan  atonia uteri.
b.    Sementara dilakukan pemasangan infus dan pemberian uterotonika, lakukan pengurutan uterus.
c.    pastikan plasenta terlahir lengkap dan tak ada laserasi jalan lahir.
d.   lakukan uji beku darah.
e.    bila semua tindakan di atas telah di lakukan tetapi masih tetap terjadi perdarahan lakukan tindakan spesifik sebagai berikut :
Pada fasilitas kesehatan dasar :
a.    Kompresi Bimanual Eksternal
Menekan uterus melalui dinding abdomen dengan jalan saling mendekatkan kedua belah pihak telapak tangan yang melingkupi uterus. Pantau aliran darah yang keluar. Bila perdarahan berkurang, kompresi di teruskan, pertahankan hingga uterus dapat kembali berkontraksi atau di bawa ke fasilitas kesehatan rujukan. Bila belum berhasil, coba dengan kompresi bimanual internal.
Gambar 1
Kompresi Bimanual Eksternal
35435443






Sumber : wiknjosastro, 2000.

b.    Kompresi Bimanual Internal
Uterus di tekan di antara telapak tangan pada dinding abdomen atau tinju dengan dalam untuk menjepit pembuluh darah di dalam miometrium. Pastikan perdarahan yang terjadi pertahankan kondisi ini bila perdarahan berkurang atau berhenti, tunggu hingga uterus berkontraksi kembali. Apabila perdarahan tetap terjadi, coba kompresi aorta abdominalis.
Gambar 2
Kompresi Bimanual Internal

03




               

Sumber : Wiknjosastro, 2000

c.    Kompresi Aorta Abdominalis
Tekan aorta abdominalis dengan kuat dan dapat dibantu dengan tangan kiri, selama 5 sampai 7 menit.Lepaskan tekanan sekitar 30 sampai 60 detik, sehingga bagian lainnya tidak terlalu banyak kekurangan darah.Tekanan aorta abdominalis untuk mengurangi perdarahan bersifat sementara.
Gambar 3
Kompresi Aorta Abdominalis.
45






               
Sumber : Manuaba IBG, 1999
Pada Rumah Sakit Rujukan
1)   Ligasi arteri uterine dan ovarika
2)   Histerektomi
5.    Peranan bidan dalam menghadapi perdarahan post partum karena atonia uteri.
Bidan dapat mengambil langkah-langkah untuk menangani perdarahan atonia uteri sebagai berikut ( Manuaba IBG, 1998 ).

a.    Meningkatkan upaya preventif
1)   Meningkatkan pemberian gerakan keluarga berencana sehingga memperkecil jumlah grande multipare dan memperpanjang jarak hamil.
2)   Melakukan konsultasi mengenai kehamilan dengan overdistensi uterus: hidramnion dan kehamilan ganda, dugaan janin besar  (makrosomia )
3)   Mengurangi peranan pertolongan persalinan oleh dukun. 
b.    Bidan dapat segera melakukan rujukan bila penderita dengan di dahului tindakan ringan :
1)   Memasang infus, memberikan cairan pengganti.
2)   Memberikan uterotonika intramuskulr, intravena atau dengan drips.
3)   Melakukan masase uterus sehingga kontraksi otot rahim makin cepat
PROTAP ATONIA UTERI
 
D.  Konsep Dasar Menajemen Asuhan Kebidanan (Varney, 1997)
1.    Pengertian Manajemen Kebidanan
Manajemen kebidanan adalah proses pemecahan masalah yang digunakan sebagai metode untuk mengorganisasikan pikiran dan tindakan berdasarkan teori ilmiah, penemuan –penemuan, ketrampilan dalam rangkaian / tahapan yang logis untuk pengambilan suatu keputusan yang terfokus pada klien. (Varney, diakses 30 Agustus 2012)
2.    Tahapan dalam Manajemen Kebidanan (Hj. Salma)
Menurut Varney langkah-langkah manajemen asuhan kebidanan adalah sebagai berikut:
a.    Langkah I : Tahap Pengumpulan Data Dasar
Pada langkah pertama ini berisi semua informasi yang akurat dan lengkap dari semua sumber yang berkaitan dengan kondisi klien. Untuk memperoleh data dilakukan dengan cara anamnesis (biodata, riwayat menstruasi, riwayat kesehatan, riwayat kehamilan, persalinan dan nifas, biospsikososiospiritual, pengetahuan klien), pemeriksaan fisik sesuai dengan kebutuhan dan pemeriksaan tanda-tanda vital, pemeriksaan khusus (inspeksi, palpasi, auskultasi, perkusi), pemeriksaan penunjang 9 laboratorium, catatan terbaru dan sebelumnya).
b.    Langkah II : Interpretasi Data Dasar
Pada langkah ini dilakukan identifikasi terhadap diagnosa atau masalah berdasarkan interpretasi yang benar atas data-data yang telah dikumpulkan.data dasar yang sudah dikumpulkan diinterpretasikan sehingga dapat merumuskan diagnosis dan masalah yang efektif.
c.    Langkah III : Identifikasi Diagnosa Atau Masalah Potensial
Pada langkah ini kita mengidentifikasi masalah potensial atau diagnosa potensial berdasarkan diagnosa atau masalah yang sudah diidentifikasi. Langkah ini membutuhkan antisipasi, bila memungkinkan dilakukan pencegahan. Bidan diharapkan dapat waspada dan bersiap-siap diagnosa atau masalah potensial ini benar-benar terjadi.
d.   Langkah IV : Penetapan Kebutuhan Terhadap Tindakan Segera
Pada langkah ini bidan menetapkan kebutuhan terhadap tindakan segera, melakukan konsultasi, kolaborasi dengan tenaga lain berdasarkan kondisi klien. Dalam langkah ini, Mengidentifikasi perlunya tindakan segera oleh bidan atau dokter dan untuk dikonsultasikan atau ditangani bersama dengan anggota tim kesehatan yang lain sesuai dengan kondisi klien.
e.    Langkah V : Penyusunan Rencana Asuhan yang Menyeluruh
Pada langkah ini direncanakan usaha yang ditentukan oleh langkah-langkah sebelumnya. Langkah ini merupakan kelanjutan manajemen terhadap masalah atau diagnosa yang telah diidentifikasi atau diantisipasi.
f.     Langkah VI : pelaksanaan asuhan
Pada langkah ini dilakukan rencana asuhan menyeluruh seperti yang diuraikan pada langkah kelima dilaksanakan secara efesien dan aman. Perencanaan ini bias dilakukan seluruhnya oleh bidan atau sebagian lagi oleh klien atau anggota tim kesehatan lainnya. Walau bidan tidak melakukan sendiri ia tetap memikul tanggung jawab untuk mengarahkan pelaksanaannya.
g.    Langkah VII : Evaluasi
Pada langkah ini dilakukan evaluasi keefektifan dari asuhan yang sudah diberikan meliputi pemenuhan kebutuhan akan bantuan apakh benar-benar akan terpenuhi sesuai dengan kebutuhan sebagaimana telah diidentifikasi di dalam diagnosa dan masalah. Rencana tersebut dianggap efektif jika memang benar dalam pelaksanaannya.
h.    Pendokumentasian Asuhan Kebidanan (Hj. Salmah)
Menurut Varney, alur berpikir bidan saat menghadapi klien meliputi 7 langkah.  Untuk   mengetahui  apa  yang  telah  dilakukan  oleh  seorang bidan melalui proses berpikir sistematis, didokumentasikan dalam bentuk SOAP, yaitu :
1)   Subjektif (S)
Menggambarkan pendokumentasian hasil pengumpulan data klien melalui anamnesis.
2)   Objektif (O)
Menggambarkan pendokumentasian hasil pemeriksaan fisik klien, hasil laboratorium dan uji diagnostic lain yang dirumuskan dalam data focus untuk mendukung asuhan.


3)   Assesment (A)
Menggambarkan pendokumentasian hasil analisis dan interpretasi data subjektif dan objektif dalam suatu identifikasi diagnosis/masalah, antisipasi diagnosis/masalah potensial, dan perlunya tindakan segera oleh bidan atau dokter.
4)   Planning (P)
Menggambarkan pendokumentasian dan tindakan (I) dan evaluasi perencanaan (E) berdasarkan assessment.



 




Tidak ada komentar:

Posting Komentar